Kilas Balik Global 2025: Trump Presiden dan Konflik Timur Tengah

Tahun 2025 meninggalkan jejak besar dalam sejarah dunia dengan Donald Trump menjabat kembali sebagai Presiden AS, sejumlah konflik dan upaya perdamaian di Timur Tengah, serta dinamika geopolitik global yang signifikan. Artikel ini merangkum secara detail peristiwa penting tersebut, termasuk kebijakan luar negeri AS, konflik bersenjata, dan langkah diplomatik yang membentuk tatanan politik internasional sepanjang 2025.


1. Trump Kembali Menjadi Presiden AS dan Kebijakan Luar Negeri

Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua non‑berturut setelah kemenangan pemilihan 2024, menjadikan 2025 sebagai tahun yang sarat kebijakan kontroversial, terutama di luar negeri. Pemerintahan Trump menempatkan fokus besar pada kebijakan luar negeri yang agresif, termasuk strategi geopolitik di Amerika Latin dan Timur Tengah. Beberapa analis menyebut pendekatannya sebagai “Donroe Doctrine”, yaitu interpretasi baru dari doktrin intervensi klasik AS yang menekankan dominasi politik dan militer di kawasan tertentu. The Washington Post

Di sisi domestik, kembalinya Trump mengakibatkan perubahan tajam dalam prioritas kebijakan nasional dan internasional, termasuk langkah keras terhadap imigrasi dan hubungan dagang global. People.com


2. Perang, Serangan, dan Krisis di Timur Tengah

2025 ditandai oleh serangkaian konflik penting di kawasan Timur Tengah dan sekitar Laut Merah yang melibatkan berbagai kekuatan lokal dan internasional.

a. Konflik Israel–Iran & Gaza

Selama tahun 2025, konflik antara Israel dan Iran menjadi salah satu fokus utama ketegangan regional. Pertikaian ini sempat memicu pertukaran serangan dan ancaman eskalasi yang dramatis. Menurut pelacak konflik, ketegangan antara Iran dan Israel kerap memanas meskipun ada upaya diplomasi. Council on Foreign Relations

Selain itu, Presiden Trump memainkan peran sentral dalam mendorong kesepakatan ceasefire di Gaza, yang kemudian menghasilkan Gaza peace summit di Sharm El Sheikh, Mesir pada 13 Oktober 2025. Namun, pakta itu lebih banyak dinilai sebagai simbol upaya perdamaian ketimbang solusi yang benar‑benar menyelesaikan akar konflik Hamas‑Israel di wilayah Gaza. Wikipedia

b. Intervensi Militer AS di Yaman dan Laut Merah

Amerika Serikat melancarkan kampanye militer besar di Yaman pada Maret–Mei 2025, yang dikenal sebagai Operation Rough Rider. Serangan udara dan laut AS, bersama sekutu, menarget milisi Houthi yang menyerang jalur pelayaran komersial di Laut Merah dan Teluk Aden. Wikipedia

Setelah beberapa bulan pertikaian, pada 6 Mei 2025, terjadi gencatan senjata antara AS dan Houthi, yang meredam konflik ini untuk sementara. Wikipedia


3. Diplomasi, Perdamaian, dan Tantangan Baru

a. Gaza Peace Summit & Peran Trump

Trump turut menjadi tuan rumah dan memimpin Gaza peace summit di Mesir yang mengundang puluhan negara untuk mendukung fase perdamaian setelah perang berdarah yang berkepanjangan. Meski deklarasi itu berisi langkah awal menuju rekonsiliasi dan stabilitas, sejumlah analis menyebutnya sebagai lebih simbolis daripada substansial. Wikipedia

Langkah Trump ini tercatat sebagai upaya diplomasi besar yang mencoba mengakhiri konflik Gaza yang sudah berlangsung sejak 2023, dan memberikan narasi bahwa AS tetap menjadi aktor utama dalam proses perdamaian regional. Wikipedia

b. Tantangan Baru & Skenario Lanjutan

Menjelang 2026, diskusi konflik lain mencuat kembali. Laporan terbaru menyebut bahwa Perdana Menteri Israel dan Trump membahas kemungkinan gelombang serangan lanjutan terhadap Iran, sekaligus pergeseran fase dalam proses perdamaian Gaza, seperti pembentukan pemerintahan teknokrat di wilayah tersebut. Axios

Setiap pembicaraan semacam ini menandakan betapa kompleksnya situasi geopolitik di Timur Tengah, sekaligus potensi eskalasi konflik baru yang menunggu implementasi kebijakan pemerintahan kedua negara. Axios


4. Reaksi dan Kontroversi Terhadap Kebijakan Trump

Kebijakan luar negeri Trump sering menimbulkan kritik global, terutama terkait hak asasi manusia, dukungan militer, dan strategi perdagangan. Amplifikasi praktik otoritarianisme dan gesekan diplomatik menjadi salah satu sorotan masyarakat internasional dan organisasi HAM. Amnesty International

Selain itu, beberapa kebijakan tarif dagang dan peran AS dalam konflik dan perundingan global memicu pro‑kontra di berbagai belahan dunia, termasuk klaim bahwa pendekatan Trump terlalu mengedepankan geopolitik agresif dibandingkan kerja sama multilateral. The Washington Post


5. Implikasi Global

a. Perang dan Perdamaian

Tahun 2025 menunjukkan bahwa walau ada upaya perdamaian seperti gencatan senjata dan summit internasional, konflik klasik dan baru tetap berlangsung dengan skenario yang saling terkait. Krisis Gaza, perang udara di Yaman, dan ketegangan Israel–Iran memberikan gambaran bagaimana konflik regional bisa memengaruhi stabilitas global. Wikipedia+1

b. Diplomasi AS dan Pengaruhnya

Keterlibatan AS di banyak titik konflik – melalui operasi militer, diplomasi, maupun kebijakan keamanan – memperlihatkan peran besar Washington dalam tatanan keamanan global. Ini sekaligus menciptakan tantangan baru, termasuk kritik terhadap dominasi politik dan pengaruhnya terhadap kebijakan kawasan. The Washington Post


Kesimpulan

Tahun 2025 menjadi momen penting dalam sejarah global, ditandai oleh kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS dan dinamika besar di Timur Tengah baik dalam bentuk konflik bersenjata maupun upaya diplomasi besar yang mencoba menekan eskalasi konflik panjang. Dari Operation Rough Rider di Yaman, Gaza peace summit di Mesir, hingga wacana potensi serangan baru terhadap Iran, rangkaian peristiwa ini memperlihatkan hubungan rumit antara kebijakan luar negeri AS dan realitas geopolitik regional yang terus berubah cepat. Secara keseluruhan, rangkaian kejadian ini membentuk pondasi krisis dan peluang perdamaian yang akan menentukan arah global di 2026 ke depan. Wikipedia+1